Kamis, 05 Maret 2015

Makalah Perubahan Sosial dan Konflik



 BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Setiap masyarakat manusia selama hidup pasti mengalami perubahan-perubahan.Perubahan dapat berupa perubahan yang tidak menarik dalam arti kurang mencolok. Ada pula perubahan-perubahan yang pengaruhnya terbatas maupun yang luas, serta ada pula perubahan-perubahan yang lambat sekali, akan tetapi ada juga yang berjalan dengan cepat. Perubahan-perubahan hanya akan dapat ditemukan oleh seseorang yang sempat meneliti susunan dan kehidupan suatu masyarakat pada suatu waktu dan membandingkannya dengan susunan dan kehidupan masyarakat tersebut pada waktu yang lampau. Seseorang yang tidak dapat menelaah susunan dan kehidupan masyarakat desa di  indonesia misalnya, akan berpendapat bahwa masyarakat tersebut statis , tidak maju dan tidak berubah.
Perubahan-perubahan masyarakat dapat mengenai nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola prilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan lain sebagainya. Karena luasnya bidang dimana mungkin terjadi perubahan-perubahan tersebut maka bilamana seseorang hendak membuat penelitian perlulah terlebih dahulu ditentukan secara tegas, perubahan apa yang dimaksudnya dasar penelitiannya mungkin tak akan jelas, apabila hal tersebut tidak dikemukakan terlebih dahulu.
Indonesia merupakan sebuah negara yang terletak di bagian timur dunia, negara yang bagian pulau-pulaunya termasuk dalam garis khatulistiwa berbatasan dengan dua benua dan juga dua samudra dikatakan oleh dunia sebagai tempat yang strategis untuk melakukan kegiatan agraris dan maritim sehingga tumbuhan-tumbuhan yang dapat memakmurkan dapattumbuh subur disana. Karena terletak di garis khatulistiwa, Indonesia memiliki beragamcorak kebudayaan yang dimiliki oleh para penduduknya mulai dari bagia timur sampai dengan bagian barat. Beragam kebudayaan tersebut semakin bercorak lagi dengan kedatangan para pedagang-pedagang asing yang datang dari Asia dan Eropa, adanya kemungkinan perubahan sosial dapat terjadi di Indonesia, baik secara paksa ataupun kebudayaan tersebut dapat diterima oleh masyarakat.
Untuk menganalisa secara ilmiah tentang gejala-gejala dan kejadian sosila budaya di masyarakat sebagai proses-proses yang sedang berjalan atau bergeser kita memrlukan beberapa konsep. Konsep-konsep tersebut sangat  perlu untuk menganalisa proses pergeseran masyarakat dan kebudayaan serta dalam sebuah penelitian antropologi dan sosiologi yang disebut dinamik sosial (social dynamic).

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian  Perubahan Sosial, Kebudayaan dan Konflik ?
2.      Apa saja teori dan tipe perubahan sosial?
3.      Apa saja bentuk-bentuk konflik?
4.      Apa faktor terjadinya perubahan sosial dan konflik serta cara untuk mengatasi permasalahannya?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengertahui serta memahami pengertian dari Perubahan Sosial, Kebudayaan san Konflik.
2.      Untuk mengetahui teori dan tipe perubahan sosial
3.      Untuk mengetahui bentuk-bentuk konflik
4.      Untuk mengetahui faktor terjadinya perubahan sosial dan konflik serta cara untuk mengatasi permasalahannya.

BAB II
PEMBAHASAN
PERUBAHAN SOSIAL, KEBUDAYAAN DAN KONFLIK

2.1  PERUBAHAN SOSIAL
1.      Pengertian Perubahan sosial
Proses perubahan sosial merupakan suatu proses yang bermula sejak manusia hidup bermasyarakat. Proses itu tidak pernah berhenti sampai kapanpun, karena manusia selalu menciptakan hal-hal baru dalam hidupnya. Secara umum perubahan sosial merupakan perubahan dalam segi struktur sosial dengan hubungan sosial. Untuk lebih jelasnya, berikut beberapa ahli mendefinisikan perubahan sosial :
a.       Prof. Selo Soemardjan
Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan didalam suatu masyarakat yang memengaruhi sistem sosialnya.
b.      Kingsley Davis
Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat.
c.       Samuel Koenig
Perubahan sosial dalam masyarakat menunjuk pada modifikasi-modifikasi yang terjadi dalam pola-pola kehidupan masyarakat karena sebab-sebab intern dan ekstern
d.      Gillin dan Gillin
Perubahan sosial adalah suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima yang disebabkan perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan material, komposisi penduduk,  ideologi maupun oleh adanya difusi atau pun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.

e.       Robert M. Z.Lawang
Perubahan sosial adalah proses ketika dalam suatu sistem sosial terdapat perbedaan-perbedaan yang dapat diukur yang terjadi dalam suatu kurun waktu tertentu.

2.      Teori-teori Perubahan Sosial
Berikut adalah beberapa teori yang menjelaskan mengenai perubahan sosial :
a.       Teori Evolusi (Evolution Theory)
Teori ini pada dasarnya berpijak pada perubahan yang memerlukan proses yang cukup panjang. Dalam proses tersebut, terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui untuk mencapai perubahan yang diinginkan. Ada beberapa macam kategori tentang teori evolusi yaitu sebagai berikut.
1)      Unilinier Theories of Evolution
Teori ini berpendapat bahwa manusia kebudayaannya akan mengalami perkembangan sesuai dengan tahapan-tahapan tertentu dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang kompleks dan akhirnya sempurna. Pelopor teori ini antara lain adalah Auguste Comte dan Herbert spencer.
2)      Universal Theories of Evolution
Teori ini menyatakan bahwa perkembanganmasyarakat tidak perlu melalui tahap-tahap tertentu yang tetap.Kebudayaan manusia telah mengikuti suatu garis evolusi tertentu. Menurut Herbert Spencer, prinsip teori ini adalah bahwa masyarakat merupakan hasil perkembangan dari kelompok yang homogeny menjadi kelompok heterogen.
3)      Multilined Theories of Evolution
Teori ini lebih menekankan pada penelitianterhadap tahap-tahap perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat.Misalnya mengadakan penelitian tentang perubahan sistem pencaharian dari sistem berburu ke sistem pertanian menetap dengan menggunakan pemupukan dan pengairan.
Menurut Paul B. Horton dan Chester L. Hunt, ada beberapa kelemahan dari teori evolusi yang perlu mendapatkan perhatian, diantaranya adalah sebagai berikut.
1)      Data yang menunjang penentuan tahapan-tahapan dalam masyarakat menjadi sebuah rangkaian tahapan seringkali tidak cermat.
2)      Urutan-urutan  dalam tahap-tahap perkembangan tidak sepenuhnya tegas, karena ada beberapa kelompok yang mampu melampaui tahapan tertentu dan langsung menuju pada tahap berikutnya, dengan kata lain melompati suatu tahapan. Sebaliknya, ada kelompok yang justru berjalan mundur, tidak maju seperti yang diinginkan oleh teori ini.
3)      Pandangan yang menyatakan bahwa perubahan sosial akan berakhir pada puncaknya, ketika masyarakat telah mencapai kesejahteraan dalam arti yang seluas-luasnya .pandangan seperti ini perlu ditinjau ulang, karena apabila perubahan memang merupakan sesuatu yang konstan, ini berarti bahwa setiap urutan tahapan perubahan akan mencapai titik akhir. Padahal perubahan merupakan sesuatu yang bersifat terus-menerus sepanjang manusia melakukan interaksi dan sosialisasi.
b.      Teori Konflik (Conflict Theory)
Menurut pandangan teori ini, pertentangan atau konflik bermula dari pertikaian kelas antara kelompok yang menguasai modal atau pemerintahan dengan kelompok yang tertindas secara materiil, sehingga akan mengarah pada perubahan sosial. Teori ini memiliki prinsip bahwa konflik sosial dan perubahan sosial selalu melekat pada struktur masyarakat.
Teori ini menilai bahwa sesuatu yang konstan atau tetap adalah konflik sosial, bukan perubahan sosial.Karena perubahan hanyalah merupakan akibat dari adanya konflik tersebut.Karena konflik berlangsung terus-menerus, maka perubahan juga mengikutinya.Dua tokoh yang pemikirannya menjai pedoman dalam teori ini adalah Karl Marx dan Ralf Dahrendorf.
Secara lebih rinci, pandangan teori konflik lebih menitikberatkan pada hal berikut.
1)      Setiap masyarakat terus-menerus berubah
2)      Setiap komponen masyarakat biasanya menunjang perubahan masyarakat
3)      Setiap masyarakat biasanya berada dalam ketegangan dan konflik
4)      Kestabilan sosial akan tergantung pada tekanan terhadap golongan yang satu dengan golongan yang lainnya.
c.       Teori Fungsionalis (Functionalist Theory)
Konsep yang berkembang dari teori ini adalah cultural lag atau kesenjangan budaya. Konsep ini mendukung teori fungsionalis untuk menjelaskan perubahan sosial tidak lepas dari hubungan antara unsure-unsur kebudayaan dalam masyarakat.Menurut teori ini, beberapa unsur kebudayaan bisa saja berubah dengan sangat cepat sementara unsure yang lainnya tidak dapat mengikuti kecepatan perubahan unsur tersebut.Maka yang terjadi adalah ketertinggalan unsure yang berubah secara perlahan tersebut.Ketertinggalan ini menyebabkan kesenjangan budaya/sosial.
Para penganut teori ini lebih menerima perubahan sosial sebagai sesuatu yang konstan dan tidak memerlukan penjelasan.Perubahan yang dianggap sebagai suatu hal yang mengacaukan keseimbangan masyarakat. Proses pengacauan ini berhenti pada saat perubahan itu telah diintegrasikan dalam kebudayaan. Apabila perubahan itu ternyata bermanfaat, maka perubahan itu bersifat fungsional dan akhirnya diterima oleh masyarakat, tetapi apabila terbukti disfungsional atau tidak bermanfaat, perubahan akan ditolak. Tokog dari teori ini adalah Willian Ogburn.
Secara lebih ringkas, pandangan teori ini adalah sebagai berikut.
1)      Setiap masyarakat akan relative lebih stabil
2)      Setiap komponen masyarakat biasanya menunjang kestabilan masyarakat
3)      Setiap masyarakat biasanya relative terintegrasi
4)      Kestabilan sosial sangat tergantung pada kesepakatan bersama (consensus) dikalangan anggota kelompok masyarakat.
d.      Teori Siklus (Cyclical Theory)
Teori ini mencoba melihat bahwa suatu perubahan sosial itu tidak dapat dikehendaki sepenuhnya oleh siapapun dan oleh apapun.Karena dalm setiap masyarakat terdapat perputaran atau siklus yang harus diikuti.Menurut teori ini kebangkitan dan kemuduran suatu kebudayaan atau kehidupan sosial merupakan hal yang wajar dan tidak dapat dihindari.

3.      Tipe-tipe Perubahan Sosial
a.       Perubahan Lambat (evolusi) dan Perubahan Cepat (revolusi)
Perubahan-perubahan yang memerlukan waktu lama dan rentan-rentan perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat dinamakan evolusi.Pada evolusi perubahan terjadi dengan sendirinya tanpa rencana atau kehendak tertentu.Perubahan tersebut terjadi karena usaha-usaha masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan keperluan-keperluan, keadaan-keadaan dan kondisi-kondisi baru yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat.Rentetan perubahan-perubahan tersebut tidak perlu sejalan dengan rentetan peristiwa-peristiwa didalam sejarah masyarakat yang bersangkutan.Ada bermacam-macam teori tentang evolusi, yang pada umumnya dapat digolongkan ke dalam beberapa kategori sebagai berikut.
1)      Unilinear theories of evolution
Teori ini pada pokoknya berpendapat bahwa manusia dan masyarakat (termasuk kebudayaannya) mengalami perkembangan sesuai dengan tahap-tahap tertentu, bermula dari bentuk yang sederhan, kemudian bentuk yang kompleks sampai pada tahap yang sempurna. Pelopor-pelopor teori tersebut antara lain August Comte, Herbert Spencer, dan lain-lain.
2)      Universal theory of evolution
Teori ini menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidaklah perlu melalui tahap-tahap tertentu yang tetap.Teori ini mengemukakan bahwa kebudayaan manusia telah mengikuti suatu garis evolusi yang tertentu. Prinsip-prinsip teori ini diuraikan oleh Herbert Spencer yang antara lain mengatakan bahwa masyarakat merupakan hasil perkembangan dari kelompok homogeny ke kelompok yang heterogen, baik sifatnya maupun susunannya.
3)      Multilined theories of evolution
Teori ini lebih menekankan pada penelitian-penelitian terhadap tahap-tahap perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat, misalnya mengadakan penelitian perihal pengaruh sistem kekeluargaan dalam masyarakat yang bersangkutan dan seterusan.
Sementara itu, perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung dengan cepat dan menyangkut dasar-dasar atau sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat (yaitu lembaga-lembaga kemasyarakatan) lazimnya dinamakan “revolusi”.Unsur-unsur pokok revolusi adalah adanya perubahan yang cepat, dan perubahan tersebut mengenai dasar-dasar atau sendi-sendi pokok kehidupan masyarakat.Didalam revolusi, perubahan-perubahan yang terjadi dapat direncanakan terlebih dahulu atau tanpa rencana.Ukuran kecepatan suatu perubahan yang dinamakan revolusi, sebenarnya bersifat relatif karena revolusi dapat memakan waktu yang laman.
b.      Perubahan kecil dan Perubahaan Besar
Perubahan- perubahan kecil merupakan perubahan-perubahan yang terjadi pada unsur-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh langsung atau berarti bagi masyarakat. Perubahan mode pakaian, misalnya tak akan membawa pengaruh apa-apa bagi masyarakat secara keseluruhan karena tidak mengakibatkan perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan.
Sebaliknya, proses industrialisasi yang berlangsung pada masyarakat agraris merupakan perubahan sosial yang akan membawa pengaruh besar pada masyarakat, Berbagai lembaga kemasyarakatan akan ikut terpengaruh misalnya, hubungan kerja, sistem milik tanah, hubungan kekeluargaan, sratifikasi masyarakat, dan seterusnya.
c.       Perubahan yang Dikehendaki (Intended-Change) atau Perubahan yang Direncanakan (Planned-Change) dan Perubahan yang Tidak Dikehandaki (Unintended-Change) atau Perubahan yang Tidak Direncanakan (Unplanned-Change)
Perubahan yang di kehendaki atau di rencanakan merupakan perubahan yang diperkirakan atau yang telah di rencanakan terlebih dahulu oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan di dalam masyarakat.Pihak-pihak yang menghendaki perubahan di namakan agent of change yaitu seorang atau sekelompok orang yang mendapat kepercayaan masyarakar sebagai pemimpin satu atau lebih lembaga-lembaga masyarakat.Cara-cara mempengaruhi masyarakat dengan sistem yang teratur dan di rencanakan terlebih dahulu dinamakan rekayasa sosial (social engineering) atau dinamakan pula perencanaan sosial (social planning).
Perubahan yang tidak dikehendaki atau yang tidak direncanakan merupakan perubahan-perubahan yang terjadi tanpa di kehendaki, berlangsung di luar jangkauan pengawasan masyarakat dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-akibat sosial yang tidak diharapkan masyarakat.Apabila perubahan yang tidak dikehendaki berlangsung bersamaan dengan suatu perubahan yang dikehendaki, perubahan tersebut mungkin mempunyai pengaruh yang demikian besarnya terhadap perubahan-perubahan yang dikehendaki.

4.      Faktor Penyebab Terjadinya Perubahan Sosial
a.       Stratifikasi
Stratifikasi adalah pengelompokan masyarakat kedalam kelas-kelas tertentu secara vertical berdasarkan penghasilan (kekayaan), pekerjaan, pendidikan dan keturunan.Dengan adanya pengelompokan seperti itu biasanya masyarakan mengalami perubahan-perubahan dikelas-kelasnya tersebut.
b.      Komunikasi
Komunikasi merupakan proses yang memungkinkan pertukaran pikiran serta proses yang menyebabkan seseorang memberikan tafsiran tentang perilaku pihak lain mengenai hal-hal apa yang ingin disampaikan pihak itu dan orang yang bersangkutan member reaksi terhadap hal-hal yang ingin disampaikan. Dengan masyarakat yang selalu berkomunikasi bararti mereka dapat bertukar pikiran satu sama lain yang bisa saja dari pemikiran tersebut dapat menciptakan hal-hal baru yang memungkinkan bisa terjadinya suatu perubahan.
c.       Virus N-Ach (Need Achivment)
Merupakan hasrat atau keingin untuk lebih berprestasi dan ingin dihargai.Dengan begitu keinginan tersebut dapat dijadikan motivasi untuk melakukan perubahan dalam hidupnya dan dalam lingkungan sosial.
d.      1) Intern : a) perubahan jumlah penduduk
  b) konflik
  c) inovasi atau penemuan baru
                  2) Ekstern :a) pengaruh kebudayaan lain
                                    b) pengaruh peperangan
                                    c) pengaruh lingkungan alam yang berubah
5.      Proses Perubahan Sosial
a.       Difusi
Adalah proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan yang berupa gagasan-gagasan, keyakinan, hasil-hasil kebudayaan, dan sebagainya dari individu ke individu lain, dari suaru golongan ke golongan lain dalam suatu masyarakat atau dari satu masyarakat ke masyarakat lain. Ada dua macam difusi dalam masyarakat, yakni :
1)      Difusi intramasyarakat, adalah difusi unsure kebudayaan antar individu atau golongan dalam suatu masyarakat.
2)      Difusi antarmasyarakat, adalah difusi unsure kebudayaan dari satu masyarakat ke masyarakat lain.
Masuknya unsur-unsur baru kedalam masyarakat melalui difusi dapat dilakukan dengan cara berikut.
1)      Perembesan damai (penetration passifique), adalah masuknya unsur baru ke dalam suatu masyarakat tanpa menggunakan kekerasan dan paksaan. Contoh pengenalan internet sebagai alat komunikasi dan informasi yang disambut dengan baik oleh masyarakat.
2)      Perembesan dengan kekerasan (penetration violente), adalah masuknya unsur-unsur baru ke dalam suatu masyarakat yang diwarnai dengan penggunaan kekerasan dan paksaan, sehingga merusak kebudayaan masyarakat penerima. Contoh, penaklukan bangsa lain melalui penjajahan.
3)      Simbiotik, adalah proses masuknya unsur-unsur kebudayaan ke atau dalam masyarakat yang hidup berdampingan. Ada tiga macam proses simbiotik, yakni :
a)      Mutualistik adalah simbiotik yang saling menguntungkan.
b)      Komensalistik adalah simbiotik dimana satu pihak merasa diuntungkan dan pihak lain merasa tidak diuntungkan, namun juga tidak dirugikan.
c)      Parasitistik adalah simbiotik dimana satu pihak mendapatkan keuntungan dan pihak lain menderita kerugian.


b.      Akulturasi
Akulturasi dapat diartikan sebagai proses sosial yang timbul apabila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur kebudayaan asing sehingga unsur-unsur kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menghilangkan sifat khas kepribadian budaya sendiri.
c.       Asimilasi
Merupakan proses interaksi antar dua kebudayaan atau lebih yang berlangsung secara intensif dalam waktu yang relative lama sehingga masing-masing kebudayaan tersebut benar-benar berubah dalam wujudnya yang baru yang berbeda dengan wujud aslinya. Berikut beberapa factor pendorong proses asimilasi, yaitu :
1)      Adanya toleransi antar kebudayaan yang berbeda
2)      Adanya kesempatan yang sama dalam bidang ekonomi
3)      Adanya sikap menghargai terhadap hadirnya orang asing dan kebudayaan yang dibawa
4)      Adanya sikap terbuka dari golongan berkuasa
5)      Adanya unsur-unsur kebudayaan yang sama
6)      Terjadinya perkawinan campuran
7)      Adanya musuh bersama diluar.
Faktor-faktor yang dapat menghambat proses asimilasi, antara lain :
1)      Letak geografis yang terisolasi
2)      Rendahnya pengetahuan tentang kebudayaan lain
3)      Adanya ketakutan terhadap budaya lain
4)      Adanya sikap superior yang menilai tinggi kebudayaan sendiri
5)      Perasaan in-group yang kuat
6)      Adanya perbedaan kepentingan.


d.      Akomodasi
Merupakan suatu kondisi yang memungkinkan terjadinya proses interaksi yang seimbang, baik antara individu dengan individu, antara individu  dengan kelompok, maupun antara kelompok dengan kelompok sehingga terjadi saling pengertian, saling pemahaman, dan saling penghormatan terhadap keberadaan sistem niali dan sistem norma yang berkembang dalam kehidupan masyarakat yang bersangkutan
Tujuan dari akomodasi antara lain :
1)      Mengurangi perbedaan dan pertentangan
2)      Mencegah terjadinya bentrokan
3)      Menciptakan iklim yang memungkinkan terjadinya kerja sama
4)      Mengusahakan terjadinya asimilasi sehingga kehidupan masyarakat akan  semakin stabil.

6.      Faktor yang Memengaruhi Jalannya Proses Perubahan Sosial
a.       Faktor yang Mendorong Jalannya Proses Perubahan Sosial
1)      Kontak dengan kebudayaan masyarakat lain
Salah satu proses yang menyangkut hal ini adalah difusi. Dengan proses tersebut, manusia mampu menghimpun penemuan-penemuan baru yang telah dihasilkan. Dengan terjadinya difusi, suatu penemuan baru yang telah diterima oleh masyarakat dapat diteruskan dan disebarkan pada masyarakat luas sampai umat manusia di dunia dapat menikamati kegunaannya. Proses tersebut merupakan pendorong pertumbuhan suatu kebudayaan dan memperkaya kebudayaan masyarakat manusia.[1]Memiliki sikap terbuka terhadap karya serta keinginan orang lain untuk maju
Sikap menghargai ornag lain dan memiliki keinginan untuk maju merupakan salah satu pendorong bagi sebuah perubahan-perubahan. Pemberian hadiah, penghargaan dan yang sejenisnya merupakan pendorong bagi individu-individu maupun kelompok-kelompok lainnya untuk menciptakan karya-karya yang baru lagi.
2)      Sistem pendidikan formal yang maju
Sistem pendidikan yang baik dan didukung oleh kurikulum adaptif maupun fleksibel, akan mampu mendorong terjadinya perubahan-perubahan sosial budaya. Pendidikan  formal akan dapat membekali siswa kemampuan untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya akan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan sesuai dengan zamannya atau tidak.
3)      Sikap berorientasi ke masa depan
Adanya prinsip bahwa bahwa setiap manusia harus berorientasi ke masa depan, menjadikan manusia tersebut selalu berjiwa (bersikap) optimistis yaitu perasaan yang selalu percaya akan memperoleh hasil yang lebih baik. Adanya jiwa dan sikap optimistis, serta keinginan yang kuat untuk maju itu pula sehingga proses-proses perubahan yang sedang terjadi dalam masyarakat dapat tetap berlangsung.
4)      Sistem lapisan masyarakat yang bersifat terbuka (open stratification)
Sistem stratifikasi sosial yang terbuka memungkinkan adanya gerak vertikal yang luad dan memberi kesempatan bagi individu-individu untuk maju berdasarkan kemampuannya.
5)      Adanya komposisi penduduk yang heterogen
Kehidupan masyarakat yang heterogen akan lebih mempermudah terjadi pertentangan-pertentangan ataupun kegoncangan-kegoncangan. Hal semacam ini juga merrupakan salah satu pendorong bagi terjadinya perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat.
6)      Nilai bahwa manusia harus memperbaiki hidupnya
Adanya nilai-nilai hidup serta keyakinan yang semacam  itu juga menyebabkan kehidupan manusia menjadi dinamik dan adanya dinamisasi kehidupan inilah maka perubahan-perubahan sosia; budaya dapat berlangsung.
7)      Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang kehidupan tertentu
Munculnya ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang tertentu dapat mengakibatkan terjadinya demo atau protes-protes yang semakin meluas, atau bahkan kerusuhan-kerusuhan dan revolusi sehingga dapat mendorong terjadinya perubagan-perubahan sosial budaya.
Selain beberapa faktor diatas terjadinya perubahan sosial dapat pula didorong atau dipercepat karena adanya faktor intern ( dari masyarakat yang mengalami perubahan), antara lain adalah :
1)      Adanya sikap masyarakat yang selalu tebuka terhadap setiap perubahan
2)      Berkembangnya pola pemikiran yang positif terhadap hal-hal yang baru
3)      Adanya sikap masyarakat yang selalu menyukai sesuatu yang baru
4)      Adanya pengalaman yang luas dari masyarakat yang bersangkutan
b.      Faktor yang Menghambat Jalannya Proses Perubahan Sosial
1)      Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lambat
Apabila di dalam suatu masyarakat terjadi kelambanan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya, maka akan menyebabkan terhambatnya laju perubahan-perubahan sosial budaya pada masyarakat yang bersangkutan.
2)      Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain
Kurangnya hubungan dengan masyarakat atau kebudayaan lain, menjadi salah satu faktor yang dapat menghambat atau menghalangi proses perubahan sosial dan budaya di dalam masyarakat sebab masyarakat tersebut tidak dapat mengetahui perkembangan-perkembangan yang terjadi pada masyarakat lain.
3)      Rasa takut akan terjadi kegoyahan pada integrasi kebudayaan
Salah satu faktor penyebab terhambatnya suatu proses perubahan sosial budaya adalah adanya kekhawatiran di kalangan masyarakat akan terjadinya kegoyahan seandainya terjadi integrasi diantara berbagai unsur kebudayaan.
4)      Adat dan kebiasaan
Apabila dalam masyarakat tersebut muncul nilai (budaya) serta kebiasaan-kebiasaan baru yang akan menggeser kebiasaan-kebiasaan lama, apalagi sampai menggeser kebiasaan yang selama ini telah menjadi pedoman serta aturan yang dipegang teguh secara turun-temurun, maka nilai serta kebiasaan-kebiasaan baru tersebut akan ditentang atau bahkan ditolak sehingga dapat menghambat jalannya proses perubahan sosial.
5)      Adanya kepentingan-kepentingan yang telah tertanam kuat
Nilai-nilai tradisional akan memunculkan sebuah kepentingan-kepentingan kolektif yang tertanam kuat dalam diri masyarakat. Hal ini akan menghambat perubahan sosial karena pada dasarnya suatu perubahan itu berusaha untuk meninggalkan nilai-nilai lama guna menuju pada nilai-nilai yang baru yang lebih bermanfaat dan sesuai dengan keadaan masyarakat saat sekarang. Oleh karena itu, seseorang yang menginginkan sebuah perubahan membuang jauh nilai kepentingan itu.
6)      Prasangka terhadap hal-hal baru atau asing atau sikap tertutup
Adanya pengalaman pahit yang diterima masyarakat akibat penjajahan yang tidak bisa dilupakan berdampak pada munculnya kecurigaan dikalangan bangsa-bangsa yang pernah dijajah itu terhadap sesuatu atau apapun yang datang dari Barat. Munculnya prasangka serta adanya sikap menolak terhadap kebudayaan asing juga akan menjadi salah satu faktor penghambat bagi jalannya proses perubahan sosial budaya suatu masyarakat.
7)      Nilai bahwa hidup ini buruk dan tidak mungkin dapat diperbaiki
Adanya keyakinan dari masyarakat untuk selalu menerima setiap nasib yang diberikan Tuhan kepada manusia dengan penuh kepasrahan menyebabkan kehidupan masyarakat menjadi bersifat pesimistis dan statis , atau bahkan fatalistik. Adanya pemahaman yang keliru tentang nasib manusia itulah, sehingga di dalam masyarakat tidak muncul dinamisasi, yang berarti tidak ada perubahan atau jika ada perubahan maka hal tersebut akan berjalan secara lambat.
Selain beberapa faktor diatas, dilihat dari segi intern ( dari dalam masyarakat yang mengalami perubahan ), terjadinya proses perubahan sosial juga dapat terhambat akibat adanya faktor-faktor berikut.
1)      Adanya sikap masyarakat yang ragu-ragu, bahkan curiga terhadap sesuatu yang baru yang dianggap dapat berdampak negatif
2)      Adanya kecenderungan dari masyarakat untuk menyukai dan mempertahankan sesuatu hal yang lama
3)      Kurangnya pengetahuan dan pendidikan masyarakat terhadap sesuatu yang baru.

7.      Dampak Perubahan Sosial
a.       Dampak Positif Perubahan Sosial
1)      Perubahan terhadap nilai dan sikap menuju ke arah yang lebih baik
2)      Menggalakkan disiplin nasional
3)      Minat masyarakat terhadap ilmu pengetahuan sangat besar
4)      Masyarakat semakin banyak memanfaatkan teknologi dalam beraktivitas
5)      Mendorong masyarakat menggunakan bahasa secara baik dan benar, serta efektif dan efisien
b.      Dampak Negatif Perubahan Sosial
1)      Wasternisasi (gaya hidup kebarat-baratan)
2)      Konsumtif ( cenderung membeli barang padahal barang tersebut bisa dibuat sendiri)
3)      Konsumerisme (hidup boros)
4)      Sekulerisme (menganggap Tuhan sebagai benda atau memisahkan agama dari kehidupan)
5)      Hedonis (mementingkan kesenangan semata)
6)      Kriminalitas
a)      Blue collar crime, yaitu kejahatan yang bisa dilakukan oleh siapapun. Seperti mencuri dan mencopet
b)      White collar crime, yaitu kejahatan yang dilakukan oleh pejabat atau petinggi daerah bahkan negara. Sepeti korupsi.
7)      Kenakalan remaja
8)      Keresahan sosial atau kecemburuan sosial
9)      Timbulnya konflik

2.2  KEBUDAYAAN
1.      Pengertian Kebudayan
a.       Pengertian Budaya
Budaya berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistemagama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.[2] Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.[3]
b.      Pengertian Kebudayaan
Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata LatinColere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Ada beberapa pengertian kebudayaan menurut para ahli, antara lain :
1)      Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
2)      Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
3)      Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
4)      Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

2.      Unsur Kebudayaan
Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, yaitu :[4]
a.       Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
1)       alat-alat teknologi
2)       sistem ekonomi
3)       keluarga
4)       kekuasaan politik
b.      Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:[5]
1)       sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
2)       organisasi ekonomi
3)       alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
4)       organisasi kekuatan (politik)
Adapun unsur-unsur kebudayaan secara universal yaitu:
a.       System peralatan hidup dan teknologi
b.      Bahasa
c.       Sistem pengetahuan
d.      Sistem kemasyarakatan
e.       Sistem ekonomi dan sistem pencaharian
f.       Sistem religi
g.      Kesenian

3.      Wujud dan Komponen
a.       Wujud
Seorang ahli sosiologi Talcott Parsons bersama dengan seorang ahli antropologi A.L. Kroeber pernah menganjurkan untuk membedakan wujud kebudayaan sebagai suatu sistem dari ide dan konsep dari wujud kebudayaan sebagai rangkaian tindakan dan aktivitas manusia yang berpola.[6]
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga: gagasan, aktivitas, dan artefak.[7]
1)      Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.
2)      Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
3)      Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret di antara ketiga wujud kebudayaan. Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
b.      Komponen
Berdasarkan wujudnya tersebut, Budaya memiliki beberapa elemen atau komponen, menurut ahli antropologi Cateora, yaitu :
1)      Kebudayaan material
Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
2)      Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.
3)      Lembaga social
Lembaga social dan pendidikan memberikan peran yang banyak dalam kontek berhubungan dan berkomunikasi di alam masyarakat. Sistem social yang terbantuk dalam suatu Negara akan menjadi dasar dan konsep yang berlaku pada tatanan social masyarakat. Contoh Di Indonesia pada kota dan desa dibeberapa wilayah, wanita tidak perlu sekolah yang tinggi apalagi bekerja pada satu instansi atau perusahaan. Tetapi di kota – kota besar hal tersebut terbalik, wajar seorang wanita memilik karier
4)      Sistem kepercayaan
Bagaimana masyarakat mengembangkan dan membangun system kepercayaan atau keyakinan terhadap sesuatu, hal ini akan mempengaruhi system penilaian yang ada dalam masyarakat. Sistem keyakinan ini akan mempengaruhi dalam kebiasaan, bagaimana memandang hidup dan kehidupan, cara mereka berkonsumsi, sampai dengan cara bagaimana berkomunikasi.
5)      Estetika
Berhubungan dengan seni dan kesenian, music, cerita, dongeng, hikayat, drama dan tari –tarian, yang berlaku dan berkembang dalam masyarakat. Seperti di Indonesia setiap masyarakatnya memiliki nilai estetika sendiri. Nilai estetika ini perlu dipahami dalam segala peran, agar pesan yang akan kita sampaikan dapat mencapai tujuan dan efektif. Misalkan di beberapa wilayah dan bersifat kedaerah, setiap akan membangu bagunan jenis apa saj harus meletakan janur kuning dan buah – buahan, sebagai symbol yang arti disetiap derah berbeda. Tetapi di kota besar seperti Jakarta jarang mungkin tidak terlihat masyarakatnya menggunakan cara tersebut.
6)      Bahasa
Bahasa merupakan alat pengatar dalam berkomunikasi, bahasa untuk setiap walayah, bagian dan Negara memiliki perbedaan yang sangat komplek. Dalam ilmu komunikasi bahasa merupakan komponen komunikasi yang sulit dipahami. Bahasa memiliki sidat unik dan komplek, yang hanya dapat dimengerti oleh pengguna bahasa tersebu. Jadi keunikan dan kekomplekan bahasa ini harus dipelajari dan dipahami agar komunikasi lebih baik dan efektif dengan memperoleh nilai empati dan simpati dari orang lain.

4.      Sifat Hakikat Kebudayaan
Kebudayaan yang dimiliki oleh suatu masyarakat mengalami tingkat perkembangan yang berbeda-beda. Namun, setiap kebudayaan mempunyai sifat hakikat yang berlaku universal bagi semua kebudayaan di dunia ini. Sifat hakikat kebudayaan tersebut adalah sebagai berikut :
a.       Kebudayaan terwujud dan tersalurkan dari perikelakuan manusia
b.      Kebudayaan telah ada terlebih dahulu daripada lahirnya suatu generasi tertentu dan tidak akan mati dengan habisnya generasi yang bersangkutan.
c.       Kebudayaan diperlakukan oleh manusia dan diwujudkan dalam tingkah lakunya
d.      Kebudayaan mencakup aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban, tindakan-tindakan yang diterima dan ditolak, serta tindakan yang dilarang dan tindakan yang dianjurkan.

5.      Fungsi dan Tujuan Kebudayaan bagi Masyarakat
Kebudayaan mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia. Fungsi kebudayaan adalah untuk mengatur manusia agar dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak dan berbuat untuk menentukan sikap jika akan berhubungan dengan orang lain di dalam menjalankan hidupnya.
Secara sederhana kebudayaan bertujuan sebagai berikut :
a.       Pedoman hubungan antarmanusia atau kelompok
b.      Wadah untuk menyalurkan perasaan-perasaan dan kehidupan lainnya
c.       Pembimbing kehidupan manusia
d.      Pembeda antara manusia dengan binatang

6.      Penetrasi Kebudayaan
Yang dimaksud dengan penetrasi kebudayaan adalah masuknya pengaruh suatu kebudayaan ke kebudayaan lainnya. Penetrasi kebudayaan dapat terjadi dengan dua cara:
a.       Penetrasi damai (penetration pasifique)
Masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya, masuknya pengaruh kebudayaan Hindu dan Islam ke Indonesia[rujukan?]. Penerimaan kedua macam kebudayaan tersebut tidak mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat. Pengaruh kedua kebudayaan ini pun tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya masyarakat.
Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan Akulturasi, Asimilasi, atau Sintesis. Akulturasi adalah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dan kebudayaan India. Asimilasi adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru. Sedangkan Sintesis adalah bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli.
b.      Penetrasi kekerasan (penetration violante)
Masuknya sebuah kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak. Contohnya, masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dengan kekerasan sehingga menimbulkan goncangan-goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyarakat.
Wujud budaya dunia barat antara lain adalah budaya dari Belanda yang menjajah selama 350 tahun lamanya. Budaya warisan Belanda masih melekat di Indonesia antara lain pada sistem pemerintahan Indonesia.

7.      Hubungan antara Perubahan Sosial dan Perubahan Kebudayaan
Teori-teori mengenai perubahan-perubahan masyarakat sering mempersoalkan perbedaan antara perubahan-perubahan sosial dengan perubahan-perubahan kebudayaan. Perbedaan demikian tergantung dari adanya perbedaan pengertian tentang masyarakat dan kebudayaan. Apabila perbedaan pengertian tersebut dapat dinyatakan dengan tegas , maka dengan sendirinya perbedaan antara perubahan-perubahan sosial dan perubahan-perubahan kebudayaan dapat dibedakan. Kingsley Davis berpendapat bahwa perubahan sosial merupakan bagian dari perubahan kebudayaan.[8] Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagiannya, yaitu : kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat dan seterusnya, bahkan perubahan-perubahan dalam bentuk serta aturan-aturan organisasi sosial.
Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas. Sebenarnya didalam kehidupan sehari-hari, acap kali tidak mudah untuk menentukan letak garis pemisah antara perubahan sosial dan perubahan kebudayaan karena tidak ada masyarakat yang tidak mempunyai kebudayaan daan sebaliknya tidak mungkin ada kebudayaan yang tidak terjelma dalam suatu masyarakat. Dengan demikian walaupun secara teoritis dan analitis pemisanan antara pengertian-pengertian tersebut dapat dirumuskan, di dalam kehidupan nyata, garis pemisah tersebut sukar dapat dipertahankan. Hal ini jelas adalah perubahan-perubahan sosial dan kebudayaan mempunyai satu aspek yang sama, yaitu kedua bersangkut-paut dengan suatu penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan dalam cara suatu masyarakat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.[9]

2.3  KONFLIK
1.      Pengertian Konflik
Manusia sebagai makhluk sosial selalu berinteraksi dengan sesama manusia.Ketika berinteraksi dengan sesama manusia, selalu diwarnai 2 hal, yaitu konflik dan kerjasama.Dengan demikian konfik merupakan bagian dari kehidupan manusia. Konflik berasal dari kata kerja latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara 2 orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkan atau membuatanya tidak berdaya. Konflik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002) diartikan sebagai percekcokan, perselisihan, dan pertentangan. Menurut Kartono & Golo (1987), konflik diartikan ketidaksepakatan dalam satu pendapt emosi dan tindakan dengan orang lain. Konflik biasanya diberi pengertian sebagai satu bentuk perbedaan atau pertentangan ide, pendapat,faham dan kepentingan diantara  dua pihak atau lebih. Pertentangan ini bisa berbentuk pertentangan fisik dan non-fisik, yang pada umumnya berkembang dari pertentangan non-fisik menjadi benturan fisik, yang bisa berkadar tinggi dalam bentuk kekerasan (violent), bisa juga berkadar rendah yang tidak menggunakan kekerasan (non-violent).
Menurut Robert M. Z. Lawang, konflik adalah perjuangan untuk memperoleh nilai, status, kekuasaan, dimana tujuan dari mereka yang berkonflik, tidak hanya memperoleh keuntungan tetapi juga untuk menundukkan saingan. Menurut Ariyono Suyono, konflik adalah proses atau keadaan dimana dua pihak berusaha menggalakan tercapainya tujuan masing-masing pihak. Dalam buku sosiologi dari James W. Vander Zanden, konflik diartikan sebagai suatu pertentangan mengenai nilai atau tuntutan hak atas kekayaan, kekuasaan, status, atau wilayah tempat pihak yang saling berhadapan bertujuan untuk menetralkan, merugikan ataupun menyisihkan lawan mereka. Menurut Soerjono Soekanto, konflik adalah suatu proses sosial dimana orang perorangan atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi tujuan dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai dengan ancaman dan atau kekerasan.
Proses sosial yang terjadi disini mulai dari usaha mempertajam perbedaan diantara individu-individu atau kelompok-kelompok yang antara lain menyangkut ciri-ciri fisik, emosi, akhirnya terjadi pertikaian atau pertentangan yang tujuannya adalah untuk mengalahkan pihak lawan dengan cara ancaman atau kekerasan.

2.      Faktor Penyebab Terjadinya Konflik
Menurut Soerjono Soekanto, faktor penyebab terjadinya konflik adalah :
a.       Perbedaan antar individu, karena perasaan, pendirian, pendapat.
b.      Bentrokan kepentingan, baik ekonomi maupun politik
c.       Perubahan sosial dalam masyarakat dapat mengubah nilai sosial sehingga menimbulkan perbedaan pendirian.
Sedangkan faktor penyebab terjadinya konflik secara umum adalah :
a.       Perbedaan individu
Perbedaan ini yang menjadi sumber konflik adalah perbedaan pendirian dan perasaan. Setiap individu pasti berbeda pendirian dan perasaan itu sebabnya dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak sejalan  dengan kelompoknya.
b.      Perbedaan latar belakang dan kepribadian
Perbedaan ini  membentuk pribadi-pribadi yang berbeda. Seseorang sedikit terpegaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
c.       Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok
Manusia mempunyai perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan berbeda.Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda.
Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat menyangkut pula bidang politik, sosial, dan budaya.
d.      Perubahan-perubahan  nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebutdapt memicu terjadinya konflik social

3.      Bentuk-Bentuk Konflik
a.       Konflik menurut Dahrendoft
1)      Konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi) misalnya antara peranan –peranan dalam keluarga atau profesi(konflik peran (role)).
2)      Konflik antara kelompok-kelompok sosial (antarkeluarga, antargank).
3)      Konflik antar satuan nasional (kompanye, perang saudara).
4)      Konflik antaratau tidak antaragama
5)      Konflik antar politik.
b.      Konflik berdasarkan jenisnya
1)      Komflik rasial merupakan konflik yang didasarkan pada perbedaann rasial yang meliputi perbedan fisik, etika pergaulan, cara berbicara, dan cara menghormati orang lain.
2)      Konflik antarsuku bangsa
a)      Perbedaan bahasa daerah, misalnya bahasa jawa, sunda, balim madura, batak.
b)      Perbedaan kesenian daerah, misalkan tarian daerah musik pegiring, seni lukis, dan seni ukir.
c)      Perbedaan adat istiadat dalam perkawinan, upacara ritual dan hukum adat.
d)     Perbedaan seni bangunan rumah, peralatan kerja  di sawah dan pakaian adat.
e)      Perbedaan tata susunan dan kekerabatanm mislnya patrilineal, matrilineal, dan parental.
f)       Perbedaan latar belakang sejarah.
3)       Konflik antaragama
Pemahaman agama yang sempit dan menganggap bahwa agama yang dianut adalah paling benar sedangkan agama orang lain salah dapat memicu konfik antar agama.
c.       Konflik berdasarkan tingkatannya
1)      Konflik tingkat ideologi/gagasan adalah adanya perbedaan pemahaman ataupun cara pendang terhadap satu hal yang bersifat mendasar antara kelompok-kelompok, golongan-golongan, atau kelas sosial dalam masyarakat.
2)      Konflik tingkat politik terjadi dalm bentuk pertentangan didalam pembagian status sosial, kekuasaan, dan sumber-sumber ekonomi.

d.      Konflik dipandang dari segi materinya
1)      Konflik tujuan terjadi jika ada tujuan atau yang kompetitif bahkan yang kontradiktif.
2)      Konflik peranan timbul karena manusia memiliki lebih dari satu peranan dan tipa peranan tidak selalu memiliki kepentingan yang sama.
3)      Konflik nilai dapat muncul karenadasarnya nilai yang dimiliki individu dalam organisasi tidak sama, sehingga konflik dapat terjadi antarindividu, individu dengan kelompok, kelompok dengan organisasi.
4)      Konflik kebijakan dapat terjadi karena adanya ketidaksetujuan individu atau kelompok tehadap perbedaan kebijakan yang dikemukakan oleh satu pihak dan kebijakan lainnya.
e.       Konflik berdasarkan cara pandangnya
1)      Konflik positif – positif
2)      Konflik negatif – negatif
3)      Konflik positif – negatif

4.      Sumber-sumber Konflik Sosial
a.       Kebutuhan (needs)
Esensi terhadap kesejahteraan dan keberadaan manusia. Setiap individu atau kelompok berupaya dengan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan hidup dan hasrat sosialnya
b.      Persepsi (perceptions)
Cara pandang dan pemahaman terhadap suatu hal atau masalah, perbedaan persepsi dan penilaian atas dasar kepercayaan atau prinsip-prinsip dasar yang dipertimbangakan sebagai hal yang amat penting, dapat menimbulkan kesalahpahaman dan prasangka buruk. W.A. Gerungan mengemukakan bahwa prasangka pada umumnya timbul karena hal-hal berikut :
1)      Kurangnya pengetahuan dan pengertian terhadap sifat dan sikap orang lain atau kelompok lain.
2)      Kepentingan perseorangan dan golongan.
3)      Ketidaktahuan akan kerugian yang dialami apabila prasangka buruk dipupuk.
c.       Perasaan dan Emosi (feeling and emotions)
Adalah respon yang timbul dari setiap individu atau kelompok dalam menghadapi suatu gejala atau fenomena sosial.
d.      Kekuasaan (power)
Adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi orang lain sesuai dengan kehendaknya. Perbedaan posisi dan hubungan kekuasaan dalam masyarakat bisa menjadi faktor yang dapat menimbulkan konflik, begitu juga adanya perbedaan jumlah atau kuantitas masyarakat dalam bentuk pola mayoritas-minoritas. Kekuasaan berhubungan erat dengan kebijakan, sebab kebijakan publik pada umumnya dirumuskan dan ditetapkan oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan. Kebijakan publik dapat didefinisikan sebagai suatu perintah atau larangan yang dibuat oleh pemerintah.
Timbulnya konflik dari sebuah kebijakan terjadi karena adanya keinginan atau harapan dari pihak-pihak yang merasa tidak terakomodasi dalam penentuan kebijakan tersebut. Ini dapat terjadi karena adanya perbedaan mendasar, yaitu berupa perbedaan tujuan mereka yang terlibat dalam suatu konflik.
e.       Perbedaan kebudayaan
Pola-pola kebudayaan sangat berpengaruh terhadap pembentukan dan perkembangan kepribadian setiap anggota masyarakat yang bertempat tinggal di suatu lingkungan kebudayaan.
f.       Benturan kepentingan
Adanya kepentingan yang sama terhadap bidang-bidang kehidupan, seperti politik, ekonomi, dan sosial budaya cenderung menyebabkan terjadinya persaingan yang dalam prosesnya sering berlangsung secara tidak sehat dan berakhir dalam sebuah konflik.
g.      Perubahan sosial
Perubahan sosial atau perubahan struktur dan sistem sosial yang berlangsung secara cepat, pada umumnya tidak diadaptasi atau diterima oleh seluruh anggota masyarakat karena berbagai alasan, terutama menyangkut nilai-nilai dan norma-norma sosial yang telah tertanam dengan kuat (terinternalisasi).
h.      Masalah yang tidak terselesaikan
Persoalan yang tidak terselesaikan berpotensi menjadi sumber konflik yang berkepanjangan. Menurut Dubois dan Miley, sumber utama terjadinya konflik di masyarakat adalah adanya ketidakadilan sosial, adanya diskriminasi terhadap hak-hak individu dan kelompok, dan tidak adanya penghargaan terhadap keberagamaam.

5.      Dampak Terjadinya Konflik
a.       Bertambah kuatnya rasa solideritas antar sesama anggota
b.      Hancurnya atau rusaknya kesatuan kelompok
c.       Adanya perubahan kepribadian seseorang individu
d.      Hancurnya harta benda dan kormabn manusia

6.      Pemecahan konflik atau bentuk pengendalian konflik
Usaha manusia untuk meredakan pertikaian konflik untuk mencapai kestabilan dinamakan akomodasi. Berikut bentuk-bentuk akomodasi :
a.       Gencatan senjata yaitu menangguhkan permusuhan dalam waktu tertentu.
b.      Arbitrasi yaitu perselisihan dihentikan oleh orang ketiga dan kedua pihak menyetujuinya.
c.       Ajudikasi yaitu penyelesaian suatu perkara di pengadilan.
d.      Stalemate yaitu pertentangan yang berhenti dengan sendirinya karena kekeuatan yang sama.
e.       Konsiliasi yaitu usaha yang mempertemukan keinginan pihak yang berselisih untuk mencapai perdamaian.
f.       Kompromi yaitu Kedua pihak yang bertentangan berusaha mencuru penyelesaian.
g.      Integrasi yaitu pendapat yang bertentangaan didiskusikan sampai mendapat keputusan yang memuaskan semua pihak.

7.       Cara mengatasi konflik
Selain dengan bentuk-bentuk akomodasi seperti yang tertera diatas, ada beberapa cara lain untuk mengatasi konflik, yaitu :
a.       Cara produktif mengatasi konflik
1)      With Drawal, yaitu menunggu hasil sambil berusaha memahami situasi kira-kira mampu untuk melangkah dan mengatasinya
2)      Assertif, yaitu berusaha untuk mengatasi masalah dengan tegas dan berusaha untuk membina hubungan dengan baik.
3)      Adjusting, yaitu berusaha untuk memahami dan menyesuaikan diri dengan pihak individu dan menyetujui syarat-syarat yang diminta oleh pihak yang terlibat konflik.
b.      Cara tidak produktif mengatasi konflik
1)      Avoidance (menolak konflik), cara yang sering dilakukan biasanya berbentuk menghindar dan menjauhkan diri.
2)      Force (menggunakan kekuatan), cara ini biasanya dilakukan dengan mempergunakan kekuatan fisik (seperti ancaman, teror, paksaan)
3)      Blame (menyalahkan orang lain), ketidak jelasan dimana datangnya konflik karena pihak yang terlibat konflik saling menyalakan lawannya.
4)      Silentcers, berusaha membuat orang lain diam.
c.       Cara lain mengatasi konflik
1)      Win – win solution, cara ini dilakukan oleh pihak yang keduanya ingin menang.
2)      Win – lose solution, cara ini dilakukan oleh pihak yang terlibat konflik yang salah satu pihaknya memilih untuk mengalah.
3)      Lose – lose solution, cara ini dilakukan oleh pihak-pihak yang terlibat konflik dengan mengambil sikan keduanya untuk mengalah.






















BAB 111
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Perubahan sosial merupakan perubahan yang terjadi dalam segi struktur sosial dengan hubungan sosial. Dimana perubahan itu tidak akan pernah berhenti karena setiap orang mempunyai pikiran dan kegiatan yang berbeda-beda. Perubahan sosial berhubungan dengan kebudayaan dan konflik. Kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan konflik adalah sebagai satu bentuk perbedaan atau pertentangan ide, pendapat,faham dan kepentingan diantara  dua pihak atau lebih.
Teori tentang perubahan sosial diantaranya:
a.       Teori Evolusi (Evolution Theory)
b.      Teori Konflik (Conflict Theory)
c.       Teori Fungsionalis (Funvtionalist Theory)
d.      Teori Siklus (Functionalist Theory).
Tipe-tipe perubahan sosial yaitu perubahan lambat (evolusi) dan perubahan cepat (revolusi),perubahan kecil dan perubahaan besar,perubahan yang dikehendaki (intended-change) dan perubahan yang tidak dikehandaki.
Bentuk-bentuk konflik diantaranya:
a.       Konflik menurut Dahrendoft ada 4
1.      Konflik dalam peran sosial
2.      Konflik antara kelompok-kelompok sosial
3.      Konflik antar satuan nasional
4.      Konflik antaratau tidak antaragama
5.      Konflik antar politik.
b.      Konflik berdasarkan jenisnya
1.      Komflik rasial
2.      Konflik antarsuku bangsa
3.       Konflik antaragama
c.       Konflik berdasarkan tingkatannya
1.      Konflik tingkat ideologi/gagasan
2.      Konflik tingkat politik
d.      Konflik dipandang dari segi materinya
1.      Konflik tujuan
2.      Konflik peranan
3.      Konflik nilai
4.      Konflik kebijakan
e.       Konflik berdasarkan cara pandangnya
1.      Konflik positif – positif
2.      Konflik negatif – negatif
3.      Konflik positif – negatif
Faktor penyebab terjadinya perubahan sosial, kebudayan dan konflik
a.       Perubahan sosial penyebabnya yaitu stratifikasi, komunikasi, virus n-ach (need achivment), pengaruh dari intern dan ekstern.
b.      Konflik penyebabnya yaitu perbedaan individu, perbedaan latar belakang dan kepribadian, perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok, perubahan-perubahan  nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Untuk mengatasinya dilakukan dengan cara produktif mengatasi konflik (With Drawal, Assertif, Adjusting), cara tidak produktif mengatasi konflik (Avoidance, Force, Blame, Silentcers), cara lain mengatasi konflik (Win – win solution, Win – lose solution, Lose – lose solution).
Hubungan antara perubahan sosial dan perubahan kebudayaan yaitu  kedua bersangkut-paut dengan suatu penerimaan cara-cara baru atau suatu perbaikan dalam cara suatu masyarakat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
3.2 Saran
Dengan karya tulis ini mudah-mudahan dapat bermanfaat khusunya bagi penyusun umunya bagi semuanya. Selain itu bagi pembaca yang ingin lebih mengetahui materi silahkan untuk mencari sumber referensi dari buku yang lain.























DAFTAR PUTAKA

Anidaldkk. 1984. Kamus Istilah Sosiologi. Jakarta: Pusat Pembinaan dan
Pengembangan  Bahasa
Bondet, Wrahtnala. 2009. Sosiologi 3 untuk SMA dan MA Kelas XII (BSE). Jakarta:
Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Muin, Idianto. 2006. Sosiologi untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga.
Koentjaraningrat. 2009. Ilmu Antropologi. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.
Kun, maryati. 2007. Sosiologi. Esis. Erlangga. Jakarta.
Rahman, Ade Nendang. 2009. Ekologi Politik. Bandung: Lemlit UNPAS
Soekarno, soejono. 2012. Sosilogi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja  Grafindo
Persada







[1]Ralph Linton, The Study of Man, (New York : Appleton Century Crofts Inc, 1936
[2]Human Communication: Konteks-konteks Komunikasi
[3]Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat. Komunikasi Antarbudaya:Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. 2006. Bandung:Remaja Rosdakarya.hal.25


[4]Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, op,cit., hlm. 78.
[5]Ibid., hlm. 115, 116.
[6]Lihat karangan A.L. Kroeber dan T. Parsons, The Concept of Culture and of Social System. American Sosiological Review, XXIII-5 (1958: hlm. 582-583).
[7]J.J. Honigmann, The World of Man (1959: hlm. 11-12)
[8]Kingsley Davis, op.cit., hlm. 622, 623.
[9]Selo Soemardjan, op.cit., hlm. XVIII

1 komentar:

  1. saya IBU KARMILA posisi sekarang di malaysia
    bekerja sebagai ibu rumah tangga gaji tidak seberapa
    setiap gajian selalu mengirimkan orang tua
    sebenarnya pengen pulang tapi gak punya uang
    sempat saya putus asah dan secara kebetulan
    saya buka FB ada seseorng berkomentar
    tentang AKI NAWE katanya perna di bantu
    melalui jalan togel saya coba2 menghubungi
    karna di malaysia ada pemasangan
    jadi saya memberanikan diri karna sudah bingun
    saya minta angka sama AKI NAWE
    angka yang di berikan 6D TOTO tembus 100%
    terima kasih banyak AKI
    kemarin saya bingun syukur sekarang sudah senang
    rencana bulan depan mau pulang untuk buka usaha
    bagi penggemar togel ingin merasakan kemenangan
    terutama yang punya masalah hutang lama belum lunas
    jangan putus asah HUBUNGI AKI NAWE 085-218-379-259 tak ada salahnya anda coba
    karna prediksi AKI tidak perna meleset
    saya jamin AKI NAWE tidak akan mengecewakan



    BalasHapus

Tutorial Lengkap Agar disetujui Daftar Google Adsense

Sejak membuat BLOGOOBLOK, ratusan sudah postingan yang saya buat. Tidak sedikit diantaranya membahas  Google Adsense . Ini menandakan...