Kamis, 05 Maret 2015

MAKALAH MORAL DAN EMOSI



MORAL DAN EMOSI


MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Mata Kuliah Psikologi Perkembangan

Dosen Pengampu :






Disusun Oleh :

KELOMPOK
Deden Ramdani                               11360000
Dedi Mulyana                                  11360000
Anglin Windowati                           11360000
Anis Novelia Nurjannah                 11360000
Esti Susilawati                                  1136000041





UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
1432-1433 H/ 2011-2012 M
KATA PENGANTAR
Puji serta syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah menciptakan langit dan bumi dan segala isinya. Tak lupa sholawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada junjungan kita semua Nabi Muhammad Saw, yang mana beliau telah membawa umatnya dari zaman kegelapan ke zaman yang terang benderang. Juga kepada keluarganya, sahabatnya, dan para pengikutnya yang selalu taat kepada ajarannya.
Berkat rahmat dan inayah Allah, akhirnya kami dapat menyelesaikan Tugas yang diberikan oleh Ibu Rosleny Marliana dalam mata kuliah Psikologi Perkembangan ini.
Kami menyadari tugas ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karenanya kami  mengharapkan kritik dan saran untuk pembuatan tugas selanjutnya.
Dan akhirnya kami kembalikan semuanya kepada Allah SWT, karena dialah pemilik kesempurnaan, semoga apa yang kami lakukan mendapatkan pahala dan ridho serta ampunannya. Amin.


                                                            TIM PENYUSUN







DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR
i
DAFTAR ISI
ii
BAB I PENDAHULUAN
1
A.    Latar Belakang
1
B.     Rumusan Masalah

BAB II PEMBAHASAN

A.    Moral

1.      Pengertian Moral

2.      Tahapan Perkembangan Moral

3.      Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Moral

4.      Teknik Penerapan Disiplin dan Hal Penting

5.      Kerawanan Dalam Perkembangan Moral

6.      Moral Dalam Perspektif Islam

B.     Emosi

1.       

2.       

3.       

4.       

5.       

6.       

7.       

 BAB III PENUTUP.........................................................................

A.    Simpulan............................................................................

B.     Saran....................................................................................

DAFTAR PUSTAKA...................................................................


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
               Moral merupakan ajaran tentang baik buruk perbuatan dan kelakuan, akhlak, kewajiban dan sebagainya. Dengan kata lain bahwa moral berkaitan dengan kemampuan untuk membedakan perbuatan yang benar dan yang salah sebagai alat kendali dalam bertingkah laku. Moral sering dianggap sebagai prinsip dan patokan yang berhubungan dengan benar dan salah oleh masyarakat tertentu, dapat pula diartikan sebagai perilaku yang sesuai dengan norma benar atau salah tersebut. Disamping nilai dan moral ada juga sikap, yang menurut Gerung sikap secara umum diartikan sebagai kesediaan bereaksi individu terhadap sesuatu hal . Sikap merupakan motif yang mendasari tingkah laku seseorang.
               Adapun emosi, selain dipengaruhi oleh pengindraan dan pikiran, perilaku manusia juga disertai oleh perasaan atau emosi. Perasaan itu bisa positif (senang) dan bisa juga negatif (tidak senang). Perasaan senang maupun tidak senang selalu mewarnai perilaku kita sehari-hari. Perbedaan antara perasaan dan emosi tidak dapat dinyatakan dengan tegas, karena keduanya merupakan sesuatu kelangsungan kualitatif yang tidak jelas batasnya.
B.       Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian moral?
2.      Apa saja faktor yang mempengaruhi perkembangan moral?
3.      Apa pengertian emosi?
4.      Apa saja hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perkembangan emosi?


BAB II
PEBAHASAN
MORAL DAN EMOSI
A.      MORAL
1.      Pengertian Moral
               Secara etimologis, kata moral berasal dari kata ‘mos’ dalam bahasa latin, yang bentuk jamaknya ‘mores’, yang artinya adalah tata cara atau adat istiadat . Moral juga diartikan sebagai aklak, budi pekerti, atau susila”.[1]
               Secara terminologis, terdapat berbagai pendapat tentang pengertian moral yang dilihat dari segi subtansi materilnya memang tidak nampak perbedaan, namun dalam bentuk formalnya berbeda. Widjaja, menyatakan bahwa moral adalah ajaran baik atau buruknya suatu perbuatan. Al-Ghazali, mengemukakan bahwa akhlak padanan dari kata moral merupakan suatu watak yang melekat erat dalam diri manusia dan merupakan asal dari timbulnya suatu perbuatan tertentu dari diri manusia.
               Moral yaitu keputusan untuk melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan norma yang berlaku dan nilai yang dianutnya.[2]
2.      Tahapan Perkembangan Moral
1.      Kohlberg
               Lawrence Kohlberg membagi perkembangan moral menjadi tiga tingkatan, yaitu tingkat prekonvensional, tingkat konvensional, dan tingkat postkonvensional.[3]
Berikut ini adalah tiga tingkat perkembangan moral menurut Kohlberg:


a). Tingkat Prekonvensional
               Pada tingkat pertama ini, anak sangat tanggap terhadap norma-norma budaya, misalnya norma-norma baik atau buruk, salah atau benar, dan sebagainya. Anak akan mengaitkan norma-norma tersebut sesuai dengan akibat yang akan dihadapi atas tindakan yang dilakukan. Anak juga menilai norma-norma tersebut berdasarkan kekuatan fisik dari yang menerapkan norma-norma tersebut.
b). Tingkat Konvensional
               Pada tingkat perkembangan moral konvensional, memenuhi harapan keluarga, kelompok, masyarakat, maupun bangsanya merupakan suatu tindakan yang terpuji. Tindakan tersebut dilakukan tanpa harus mengaitkan dengan konsekuensi yang muncul, namun dibutuhkan sikap dan loyalitas yang sesuai dengan harapan-harapan pribadi dan tertib sosial yang berlaku.
Pada tingkat ini, usaha seseorang untuk memperoleh, mendukung, dan mengakui keabsahan tertib sosial sangat ditekankan, serta usaha aktif untuk menjalin hubungan positif antara diri dengan orang lain maupun dengan kelompok di sekitarnya.
c). Tingkat Postkonvensional
               Pada tingkat ketiga ini, terdapat usaha dalam diri anak untuk menentukan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral yang memiliki validitas yang diwujudkan tanpa harus mengaitkan dengan otoritas kelompok maupun individu dan terlepas dari hubungan seseorang dengan kelompok. [4]
2.      Piaget
               Adapun menurut Piaget ia percaya bahwa struktur kognitif dan kemampuan kognitif anak adalah dasar dari pengembangan moralnya. Kemampuan kognitif itulah yang kemudian akan membantu anak untuk mengembangkan penalaran yang berkaitan dengan masalah sosial.
               Piaget membagi tahap perkembangan moral anak menjadi dua tahapan, yaitu tahap heteronomous dan tahap autonomous.

    Tabel Tahap Perkembangan Moral Piaget[5]
Tahap heteronomous
(tahap realisme moral)
Anak usia <12 tahun
Tahap Autonomous
(tahap independensi moral)
Anak usia >12 tahun
Diberi label tahap moralitas kendala
Diberi label tahap moralitas kerjasama
Aturan dipandang sebagai paksaan dari orang yang lebih dewasa
Aturan dipandang sebagai hasil kesepakatan bersama
Menilai perilaku moral berdasarkan konsekuensinya
Menilai perilaku moral berdasarkan niat pelakunya
Hukuman dipandang sebagai konsekuensi otomatis dari pelanggaran
Hukuman dipandang sebagai sesuatu hal yang tidak serta merta, namun dipengaruhi oleh niat pelakunya




3.      Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Moral
a.    Bimbingan dalam mempelajari bagaimana membuat konsep khusus berlaku umum.
        Dengan percaya saja bahwa remaja telah mempelajari prinsip pokok tentang benar dan salah, orang tua dan guru jarang menekankan dalam usaha pembinaan remaja untuk melihat hubungan antara prinsip khusu yang dipelajari sebelumnya dengan prinsip umum yang penting untuk mengendalikan perilaku dalam kehidupan orang dewasa.[6]
b.    Disiplin yang diterapkan di rumah dan di sekolah.
        Karena orang tua dan guru mengasumsikan bahwa remaja mengetahui tentang apa yang benar, maka penekanan kedisiplinan hanya terletak pada pemberian hukuman pada perilaku salah yang dianggap sengaja dilakukan. Penjelasan mengenai alasan salah tidaknya suatu perilaku jarang ditekankan dan bahkan jarang memberi ganjaran bagi remaja yang berperilaku benar.[7]
4.      Teknik Penerapan Disiplin dan Hal Penting
               Lawrence Kolhberg menyatakan bahwa sejalan dengan kematangan anak secara kognitif, mereka mengalami tiga tahapan penalaran moral (moral reasoning). Namun orang dapat berpikir secara moral tanpa berperilaku bermoral. Psikologi perkembangan mempelajari bagaimana anak menginternalisasikan standar hal-hal baik dan buruk dan berperilaku sesuai dengan standar tersebut. Kemampuan ini tergantung dari suara hati dan emosi moral seperti rasa bersalah, malu, empati, dan kemampuan anak untuk belajar mengelola dorongan, keinginan dan perasaan mereka.[8]
               Metode pengasuhan oleh orang tua untuk mendisiplinkan anak memiliki konsekuensi yang berbeda-beda terhadap perilaku moral anak. Power assertion diasosiasikan dengan anak-anak yang agresif dan gagal untuk menginternalisasikan standar moral. Namun efek dari hukuman fisik seperti memukul tergantung dari konteks keluarga dan dari tingkat keparahan dan frekuensi dari hukuman tersebut.[9]
               Kemampuan anak yang masih sangat muda untuk mengelola dan mengendalikan dorongan dan perasaan diasosiasikan dengan internalisasi standar moral dan suara hati yang baik. Kemampuan ini meningkat jika ibu menggunakan induksi sebagai bentuk pendisiplinan utama. Kemampuan ini juga dapat mencerminkan trait kepribadian yang relatif stabil, karena cenderung muncul pada masa yang sangat awal di kehidupan dan konsisten sepanjang waktu dan dalam berbagai situasi.[10]
5.      Kerawanan Dalam Perkembangan Moral
               Pada masa remaja, laki-laki dan perempuan telah mencapai apa yang oleh Piaget disebut tahap pelaksanaan formal dalam kemampuan kognitif. Sekarang remaja mampu mempertimbangkan semua kemungkinan untuk menyelesaikan suatu masalah dan mempertanggungjawabkannya berdasarkan suatu hipotesis atau proposisi. Jadi, ia dapat memandang masalahnya dari beberapa sudut pandang dan menyelesaikannya dengan mengambil banyak faktor sebagai dasar pertimbangan.[11]
               Pembentukkan kode moral terasa sulit bagi remaja karena ketidakkonsistenan dalam konsep benar dan salah yang ditemukannya dalam kehidupan sehari-hari. Ketidakkonsistenan membuat remaja bingung dan terhalang dalam proses pembentukkan kode moral yang tidak hanya memuaskan tetapi akan membimbingnya untuk mendapatkan dukungan sosial. Lambat atau cepat sebagian remaja mengerti, misalnya, bahwa teman dari latar belakang yang berbeda akan mempunyai kode moral yang berbeda pula.[12]
               Perilaku berbohong sosial yang dilakukan oleh anak sebenarnya dilakukan dalam upaya untuk menghindari kemungkinan menyakiti hati orang atau dalam masalah mencontek dilakukan agar mendapat nilai besar. Karena hal ini sudah umum, remaja menganggap bahwa bahwa teman-temannya akan memanfaatkan perilaku ini dan membenarkannya jika demi diterima di sekolah tinggi yang akan menunjang keberhasilan di masa depan.
               Selain itu, kerawanan dalam perkembangan moral terjadi jika seorang remaja telah mengenal minat pada lawan jenis dan merekan akan menemukan pola perilaku tertentu bagi lawan jenisnya yang tidak hanya dibenarkan tetapi juga dihargai meskipun sangat tidak dibenarkan dan tidak sesuai dengan norma-norma tertentu terutama norma agama.



6.      Moral Dalam Perspektif Islam
               Berbicara tentang moral atau etika berarti berbicara tentang sesuatu yang bertalian dengan baik buruknya perilaku manusia. Setiap bayi yang dilahirkan membawa potensi beragam, namun bentuk perilaku yang akan muncul tergantung dari bimbingan, pemeliharaan dan pengaruh orang tua mereka. Sehingga tepatlah kalau dikatakan pendidikan keluarga merupakan pendidikan dasar bagi pembentukan moral anak.
   Nilai-nilai moral yang dimaksud pun tidak terlepas dari ajaran-ajaran normativitas agama Islam seperti yang telah dicontohkan oleh Rasul. Rasulullahpun bersabda dalam sebuah Hadits yang berbunyi:
Dari Muhammad bin Ajlan dari al-Qa’qa bin Hakim dari Abu Shalih dari Abu Hurairah berkata: Bersabda Rasulallah SAW: .Sesungguhnya aku diutus ke muka bumi ini adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia (H.R. Ahmad).
               Tentang eratnya hubungan agama dengan moral ini kita dapat menganalisa dari keseluruhan ajaran agama Islam itu sendiri, bahwa akhirnya akan berujung pada pembentukan moral. Perintah mengucapkan dua kalimat syahadat misalnya yang merupakan inti awal masuknya seseorang ke dalam agama Islam, mengandung pesan moral agar segala ucapan dan perbuatannya dimotivasi oleh nilai-nilai yang berasal dari Tuhan dan Rasul-Nya,
               Menurut al-Qur’an, ketika Allah menciptakan sesuatu hal (khalq), Ia memberikan sifat-sifat, potensi-potensi, dan hukum-hukum tingkah laku, baik berupa perintah atau petunjuk kepadanya, sehingga semua unsur makhluk mengikuti sebuah pola tertentu. Manusia adalah satu-satunya kekecualian, karena ia diberikan kebebasan untuk mentaati dan mengingkari perintah-Nya. Itulah sebabnya mengapa sedemikian pentingnya bagi manusia untuk mendengarkan hati nuraninya, walaupun syetan selalu melancarkan intrik-intriknya.
               Adanya kebebasan memilih pada manusia atas tingkah laku moral tertentu tidak lain disebabkan Allah telah menyertakan kepada manusia suatu potensi yang bisa dipakai untuk membedakan antara yang baik dan buruk, benar dan salah. Pada dasarnya Allah telah memberikan pilihan atas tingkah laku moral tertentu yang seharusnya menjadi pilihan manusia. Akan tetapi karena kepicikannya, maka manusia mempunyai sifat yang suka terburu nafsu, panik, dan tidak mengetahui akibat jangka panjang dari apa yang dipilih dan dilakukannya.
               Terkait dengan moralitas atau akhlak manusia ini, al-Ghazali membuat pembedaan dengan menempatkan manusia pada empat tingkatan. Pertama, terdiri dari orang-orang yang lengah, yang tidak dapat membedakan kebenaran dengan yang palsu, atau antara yang baik dengan yang buruk. Nafsu jasmani kelompok ini bertambah kuat, karena tidak memperturutkannya. Kedua, terdiri dari orang yang tahu betul tentang keburukan dari tingkah laku yang buruk, tetapi tidak menjauhkan diri dari perbuatan itu. Mereka tidak dapat meninggalkan perbuatan itu disebabkan adanya kenikmatan yang dirasakan dari perbuatana itu. Ketiga, orang-orang yang merasa bahwa perbuatan buruk yang dilakukannya adalah sebagai perbuatan yang benar dan baik. Pembenaran yang demikian dapat berasal dari adanya kesepakatan kolektif yang berupa adat kebiasaan suatu masyarakat. Dengan demikian orang-orang ini melakukan perbuatan tercelanya dengan leluasa dan tanpa merasa berdosa. Keempat, orang-orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan buruk atas dasar keyakinannya.[13]









B.       EMOSI
               Perilaku kita sehari-hari pada umumnya diwarnai oleh perasaan-perasaan tertentu, seperti senang atau tidak senang, suka atau tidak suka, atau sedih dan gembira. Perasaan yang terlalu menyertai perbuatan-perbuatan kita sehari-hari disebut sebagai warna afektif. Warna afektif ini kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah, atau kadang-kadang tidak jelas. Apabila warna afektif tersebut kuat, proses seperti itu dinamakan emosi.
1. pengertian emosi
Emosi adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi adalah reaksi terhadap seseorang atau kejadian. Emosi dapat ditunjukkan ketika merasa senang mengenai sesuatu, marah kepada seseorang, ataupun takut terhadap sesuatu.
Kata "emosi" diturunkan dari kata bahasa Perancis, émotion, dari émouvoir, 'kegembiraan' dari bahasa Latin emovere, dari e- (varian eks-) 'luar' dan movere 'bergerak'. Kebanyakan ahli yakin bahwa emosi lebih cepat berlalu daripada suasana hati. Sebagai contoh, bila seseorang bersikap kasar, manusia akan merasa marah. Perasaan intens kemarahan tersebut mungkin datang dan pergi dengan cukup cepat tetapi ketika sedang dalam suasana hati yang buruk, seseorang dapat merasa tidak enak untuk beberapa jam.
Frieda, N.H. “Moods, Emotion Episodes and Emotions”, New York: Guilford Press, 1993, hal. 381-403.
Ekman, P. “The Nature of Emotion”, Oxford, UK: Oxford University Press, 1994.

2. peran emosi dalam perkembangan anak
Secara umum , emosi memiliki fungsi dan peranan dalam kehidupan seseorang sebagai berikut:
1.      Merupakan bentuk komunikasi sehingga anak dapat menyatakan segala kebutuhan dan perasaannya pada orang lain. Sebagai contoh, anak yang merasakan sakit atau marah biasanya mengekspresikan emosinya dengan menangis. Menangis merupakan bentuk komunikasi anak dengan lingkungannya pada saat ia belum mampu mengutarakan perasaannya dalam bentuk bahasa verbal. Demikian juga halnya ekspresi tertawa terbahak-bahak, ataupun memeluk ibunya dengan erat. Ini merupakan contoh bentuk komunikasi anak yang bermuatan emosional.
2.      Emosi berperan dalam mempengaruhi  kepribadian dan penyesuaian diri anak dengan lingkungan sosialnya, antara lain:
a.       Tingkah laku anak yang ditampilkan merupakan sumber penilaian lingkungan sosial terhadap dirinya.
b.      Emosi menyenangkan atau tidak menyenangkan dapat mempengaruhi interaksi sosial anak melalui reaksi-reaksi yang ditampilkan lingkungan.
c.       Emosi dapat meempengaruhi iklim psikologis lingkungan.
d.      Tingkah laku yang sama dan ditampilkan secara berulang dapat mnejadi satu kebiasaan.
e.       Ketegangan emosi yang dimiliki anak dapat menghambat aktivitas motorik dan mental anak.

LN, Syamsu Yusuf. 2011. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mashar, Riana. 2011. Emosi Anak Usia Dini dan Strategi Pengembangannya. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

3. peran maturasi dan belajar dalam perkembangan emosi anak
  • Faktor Maturasi
Perkembangan intelektual menghasilkan kemampuan untuk memahami makna yang sebelumnya tidak dipahami, memperlihatkan rangsangan dalam jangka waktu yang telah lama, dan memutuskan ketegangan emosi dalam satu obyek. Demikian pula kemampuan mengingat dan menduga mempengaruhi reaksi emosional. Dengan demikian anak-anak menjadi reaktif terhadap rangsangan yang tadinya tidak mempengaruhi mereka pada usia yang lebih muda (Ahmasi, 1990: 88).
Perkembangan kelenjer endokrin perlu untuk mematangkan perilaku emosional. Bayi secara relatif kekurangan produksi kelenjar endokrin yang diperlukan untuk menopang rekasi fisiologi terhadap sters. Kelenjar adrenalin memainkan peran utama pada emosional mengecil secara tajam segera setelah bayi lahir. Tidak lama kemudian kelenjar itu mulai membesar lagi, dan membesar dengan pesat sampai anak berusia lima tahun, pembesarannya melambat pada usia 5 dan usia 11 tahun, dan membesar lebih pesat lagi sampai anak berusia 16 tahun pada usia 16 tahun kelenjar tersebut mencapai kembali ukuran semula seperti pada saat anak lahir.
  • faktor Belajar
Ada beberapa metode yang menunjang perkembangan emosi anak, antara lain :
  • Tiral and error learning; anak  belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan pemuasan.
  • Leraning by initation, belajar dengan cara meniru sekaligus mempengaruhi aspek rangsangan dan aspek reaksi.
  • Learning by identification, belajar dengan cara menidentifikasi diri sama dengan belajar menirukan.
  • Conditioning; dalam metode ini obyek dan situasi yang pada umumnya gagal memancing reaksi emosional kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi.
  • Traning; pelatihan atau belajar dengan bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi
  1. Metode Belajar yang Menunjang perkembangan Emosi
  • Belajar secara coba dan ralat
Belajar secara coba dan ralat (trial and error learning) terutama melibatkan aspek reaksi. Anak belajar secara coba-coba untuk mengekspresikan emosi dalam bentuk perilaku yang memberikan pemuasan terbesar kepadanya dan menolak perilaku yang memberikan pemuasan sedikit atau sama sekali tidak memberikan pemuasan. Cara belajar ini lebih umum digunakan pada masa kanak-kanak awal dibandingkan dengan sesudahnya, tetapi tidak pernah ditinggalkan sama sekali.
  • Belajar dengan cara meniru
Belajar dengan cara meniru (learning by imitation) sekaligus mempengaruhi aspek rangsangan dan aspek reaksi. Dengan cara mengamati hal-hal yang membangkitkan emosi tertentu pada orang lain, anak-anak bereaksi dengan emosi dan metode ekspresi yang sama dengan orang-orang yang diamati. Sebagai contoh, anak yang peribut mungkin menjadi marah terhadap teguran guru. Jika ia seorang anak yang popular di kalangan teman sebayanya, maka teman-teman yang lain juga akan ikut marah kepada guru tersebut.
  • Belajar dengan cara mempersamakan diri
Belajar dengan cara mempersamakan diri (learning by identification) sama dengan belajar secara menirukan, yaitu anak menirukan reaksi emosional orang lain dan tergugah oleh rangsangan yang sama dengan rangsangan yang telah membangkitkan emosi orang yang ditiru. Metode ini berbeda dari metode menirukan dalam dua segi. Pertama, anak hanya menirukan orang yang dikagumi dan mempunyai ikatan emosional yang kuat dengannya. Kedua, motivasi untuk menirukan orang yang dikagumi lebih kuat dibandingkan  dengan motivasi untuk menirukan sembarang orang.
  • Belajar melalui pengkondisian
Pengkondisian (conditioning) berarti belajar dengan cara asosiasi. Dalam metode ini obyek dan situasi yang pada mulanya gagal memancing reaksi emosional kemudian dapat berhasil dengan cara asosiasi. Metode ini berhubungan dengan aspek rangsangan, bukan dengan aspek reaksi. Pengkondisian terjadi dengan mudah dan cepat pada tahun-tahun awal kehidupan karena anak kecil kurang mampu menalar, kurang pengalaman untuk menilai situasi secara kritis, dan kurang mengenal betapa tidak rasionalnya reaksi mereka. Setelah lewatnya masa kanak-kanak awal, penggunaan metode pengkondisian semakin terbatas pada perkembangan rasa suka dan tidak suka.
  • Pelatihan
Pelatihan (training) atau belajar di bawah bimbingan dan pengawasan, terbatas pada aspek reaksi. Kepada anak diajarkan cara bereaksi yang dapat diterima jika sesuatu emosi terangsang. Dengan pelatihan, anak-anak dirangsang untuk bereaksi terhadap rangsangan yang biasanya membangkitkan emosi yang menyenangkan dan dicegah agar tidak bereaksi secara emosional terhadap rangsangan yang membangkitkan emosi yang tidak menyenangkan. Hal ini dilakukan dengan cara mengendalikan lingkungan apabila memungkinkan.
Suryabrata, Sumadi. (1984). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UGM Press.

4. karaktristik emosi anak
5. pola/ bentuk reaksi emosi anak dan ciri utama setiap reaksi emosi sesuai                 tahap perkembangannya
6. hal- hal yang perlu d perhatikan dalam perkembangan emosi
7. emosi dalam perspektif islam
     Dalam kehidupan sehari-hari, manusia akan merasakan berbagai macam perasaan atau sering kita kenal emosi. Psikolog telah meneliti persoalan emosi ini secara detail. Alquran telah menggambarkan berbagai macam emosi manusia. Demikian juga dengan hadist-hadist Nabi, banyak yang menjelaskan berbagai macam emosi manusia, seperti cinta, takut, marah, benci, sedih, malu, iri, cemburu dan emosi-emosi lainnya.
1.      Cinta
                 Al-Qur’an menjelaskan tentang cinta kepada Allah SWT. Cinta kepada Allah SWT adalah tujuan setiap mukmin juga merupakan kekuatan pendorong untuk takut kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.
                 Cinta seorang mukmin kepada Allah SWT akan melampaui cintanya kepada dirinya, anak-anak, istri, ibu, bapak, keluarga, dan hartanya.

Artinya; “Katakanlah, ‘jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perdagngan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah yang kalian sukai, lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjidad di jalannya, maka tunggulah oleh kalian hingga Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang fasik.” (Q.S. At-Taubah [9] : 24)

                 Cinta dan ibadah seorang mukmin kepada Allah SWT. Merupakan kebutuhan yang paling luhur dan tujuan yang paling puncak. Dengan cinta dan ibadah itu, seorang mukmin dapat mewujudkan sebesar-besarnya kebahagiaan, kegembiraan , kesenangan, keamanan, dan ketentraman, baik di dunia ataupun di akhirat.[14]
2.      Takut
     Takut adalah satu bentuk yang mendorong individu untuk menjauhi sesuatu dan sedapat mungkin menghindari kontak dengan suatu hal.[15] Rasa takut sangat bermanfaat dalam kehidupan manusia karena perasaan ini akan mendorongnya menjauhi sesuatu yang akan menyakiti dirinya. Dan rasa takut yang paling penting dalam kehidupan seseorang adalah rasa takutnya terhadap siksa Allah. Hal ini dapat mendorong seseorang untuk mengerjakan kewajiban-kewajiban agamanya. Allah berfirman :

Artinya : Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman. [16]
     Penelitian muktahir membuktikan bahwa rasa takut yang berkadar normal akan mendorong manusia untuk melakukah hal- hal baik. Sementara rasa takut yang berlebihan akan menimbulkan keresahan yang berefek negartif pada kualitas kerja.[17]
     Dari hasil penelitian ini pun kita dapat menyimpulkan bahwa rasa  takut yang berlebihan akan adzab Allah dapat menimbulkan sikap putus asa dari rahmat Allah. Sedangkan sikap optimis yang berlebihan mengharap rahmat Allah akan menyebabkan manusia menyepelekan agamanya. Oleh karena itu menyatukan antara rasa takut terhadap rahmat Allah dan pengharapan terhadaprahmat Allah harus seimbang. Perpaduan dari kedua perasaan ini mampu menghasilkan energi pendorong yang akan mengarahkan manusia pada perilaku yang lurus. Allah SWT berfirman :
Artinya : lambung mereka jauh dari tempat tidurnya[18] dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezki yang Kami berikan. ( QS. AS-Sajdah : 16)
3.      Marah
     Marah merupakan emosi yang sifatnya fitrah dan akan muncul apabila salah satu motif tidak terpenuhi, atau terlambat untuk terpenuhi. Jika marah terjadi karena adanya penghalang dalam mencapai tujuan yang sangat penting dalam kehidupan atau satu tujuan luhur yang diperjuangkan dalam mencapai kesempurnaan kepribadian kita maka marah iini adalah marah yang terpuji. Allah memuji kemarahan Rasulullah saw dan para sahabat saat berjuang melawan orang- orang kafir dalam rangka dakwah islamiyah. Allah SWT berfirman :
Artinya : Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (QS. Al- Fath :29)
     Rasulullah saw melukiskan peranggai ini, khususnya yang terjadi pada organ jantung seseorang ketika marah. Organ tubuh ini pun akan dipenuhi darah akibat jantung memompa darah kebagian atas badan, khususnya bagian wajah. Oleh karena itu, orang yang sedang marah biasanya   merasa suhu tubuhnya merasa panas. Abu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda : “Ingatlah bahwa marah adalah bara api didalam hati anak Adam. Tidakkah kalian melihat kedua matanya yang memerah dan urat lehernya yag menegang.[19]
4.      Benci
     Rasa benci merupakan lawan dari rasa cinta. Ada hubungan erat antara marah dan benci. Sesuatu yang dapat membangkitkan rasa marah biasanya juga sesuatu yang bisa mengobarkan kebencian. Rasulullah saw bersabda : “Penyakit beberapa umat manusia menimpa kalian, yaitu hasud dan benci.”[20]
      Seorang mukmin yang cinta dan benci karena Allah merupakan tanda kesempurnaan iman. Seorang mukmin yang mencintai manuia, hewan, dan cinta kepada seluruh makhluk Allah, inilah yang dimaksud cinta karena Allah. Adapun benci karena Allah adalah benci terhadap keburukan dalam bentuk apapun, benci terhadap tindakan menyakiti manusia, dan kepentingan umum lainnya.
     Kebanyakan manusia membenci maut. Al-quran telah mengisyaratkan hal ini dalam firmannya :

Artinya : Diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS albaqarah 216 )
5.      Sedih
                 Rasa sedih merupakan letupan emosi yang dirasakan seseorang saat ia kehilangan seseorang ataupun sesuatu yang berharga bagi dirinya. Dari sejak lahir manusia sudah pandai menangis dan tersenyum. Setelah mulai menapaki kehidupan orang belajar dari lingkungannya kapan tempatnya tertawa dan kapan pula menangis. Q.S. al-Najm [53]: 43 menjelaskan:
 “Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis.”
                      Pada umumnya, yang kita kenali dalam ekspresi emosi sedih adalah tangis. Akan tetapi, tidak berarti bahwa setiap orang yang menangis pasti bersedih, karena ternyata ada tangis bahagia, tangis haru, atau bahkan ada tangis pura-pura seperti terjadi pada kisah saudara-saudara Yusuf. Ekspresi lain adalah raut wajah yang menggambarkan suasana hati ketika sedang bersedih: dingin, pucat, pandangan lesu, tanpa senyum, tidak bergairah.





[1]  Kamus besar bahasa indonesia, jakarta : balai pustaka, 1989  
[2]  Dr. H. Mahmud, M.Si. psikologi pendidikan (Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2010), Hal. 358
[3] Slavin, R.E. 2006. Educational psychology theory and practice. United states of amerika: john hopkins university.

                                [4] Dr. H. Mahmud, M.Si. psikologi pendidikan (Bandung: CV PUSTAKA SETIA,            2010), Hal. 359
                                [5] Dr. H. Mahmud, M.Si. psikologi pendidikan (Bandung: CV PUSTAKA SETIA,            2010), Hal. 360
[6] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan,  (Jakarta : Erlangga, 1980), hal. 225
[7] Ibid., hal. 225
[8] Carol Tavris dan Carole Wade,  Psikologe Edisi Kesembilan Jilid 2, (Jakarta : Erlangga, 2007), hal. 280
[9] Ibid., hal. 280
[10] Ibid., hal. 225-226
[11] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan,  (Jakarta : Erlangga, 1980), hal. 225
[12] Ibid., hal. 226
[13] M. Abul Quasem, Etika Al-Ghazali, (Bandung: Pustaka, 1988)
[14] Muhammad Usman Najati, Psikologi Dalam Al-quran, (Bandung : Pusaka Setia,2005),hlm.99
[15] Salito W. Sarwono, Pengantar  Psikologi Umum, (Jakarta: PT RajaGravindo 2012),  hlm.133
[16] QS. Ali Imran : 175
[17] Muhammad Ustman Najati, Psikologi Sempurna ala Nabi Saw (Bandung :Pustaka Hidayah, 2008 ) hlm.105
[18] Maksudnya mereka tidak tidur di waktu biasanya orang tidur untuk mengerjakan shalat malam.
[19] HR. Tirmidzi (Nashif, vol. V, hlm. 298-299)
[20] HR Tirmidzi
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tutorial Lengkap Agar disetujui Daftar Google Adsense

Sejak membuat BLOGOOBLOK, ratusan sudah postingan yang saya buat. Tidak sedikit diantaranya membahas  Google Adsense . Ini menandakan...